Rapat yang berlarut-larut hampir selalu punya satu penyebab yang sama: masalahnya belum pernah dituliskan. Yang dibahas adalah gejala — dashboard yang lambat, tim yang saling menunggu, rilis yang mundur dua kali. Semua orang benar tentang gejalanya, dan tidak ada yang bicara tentang hal yang sama.
Cara saya keluar dari situ sederhana dan agak tidak sopan: saya berhenti bicara dan mulai menulis di layar. Satu kalimat, satu masalah. Kalau kalimat itu butuh kata “dan”, berarti itu dua masalah dan harus dipisah. Biasanya dalam sepuluh menit daftarnya jadi empat baris, dan tiga di antaranya bukan urusan kita minggu ini.
Yang tersisa satu baris itulah rapatnya. Sisanya keributan — nyata, mengganggu, tapi bukan yang sedang kita putuskan hari ini. Menuliskannya bukan soal dokumentasi. Menuliskannya adalah cara memaksa orang menyetujui hal yang sama sebelum mulai berdebat soal solusi.